Bersama Senja di Antara Amenitas Pasir Padi

• Penulis: Nur Muhammad
• Wartawan Journalasia

Masih pukul 17.00 WIB, gumam ku setelah menyelesaikan naskah berita ke 3 hari ini (29/8/23). Tetiba saja saya ingin nyeruput kelapa muda dengan es batu, mungkin cuaca sepekan ini memang terasa panas. Dan pilihan terbaik adalah nongkrong di Pantai Pasir Padi Pangkalpinang.

Hanya butuh 10 hingga 15 menit dari tengah kota, saya tiba di Pasir Padi. Kebetulan banyak jalur alternatif yang bisa dilewati menuju satu-satu nya pantai milik Pangkalpinang tersebut.

Tiba di Pasir Padi, waktu menunjukkan pukul 17.45 WIB, hanya butuh Rp 4000 untuk tiket masuk, karena saya bawa roda empat. Kalau motor ya hanya setengahnya. Saya menyempatkan menyusuri jalur sisi kiri pantai, baru kemudian berbalik arah, menuju sisi kanan, dan ambil posisi santai. Eits… Tak lupa 1 butir kelapa batok plus gula aren khas Babel yang wangi.

Usai menyeruput segarnya kelapa muda plus Gula Aren, saya beranjak ke bagasi mobil dan kenakan sepatu kets. Coba-coba cari keringat di jalur pedestarian Pasir Padi.

Saya sengaja menyisakan kelapa muda yang tadi dipesan, biar bisa balik lagi. “titip dulu Yuk, kelak ku balik agik, nek jogging suat,” ujar ku ke pemilik kedai kelapa muda, yang di Amini dengan anggukan dan acungan jempol.

Baca Lainnya  Persit KCK Koorcabrem 045 PD II/ Sriwijaya Peringati HUT Persit ke-76

Saya mulai menyusuri jalur pedestarian, yang sangat lebar, di sisi darat badan jalan. Lantainya dari bahah keramik kasar, berwarna coklat terang, sangat padan dengan lingkungan sekitarnya. Dicampur sedikit lari-lari kecil saya menyusuri sejauh 1 kilo jalur pedestarian dan balik arah.

Saya tak sendirian juga, beberapa pengunjung juga menggunakan jalur yang sama, sekedar cari keringat. Hanya bedanya saya tak hanya cari keringat, sekaligus hilangkan penat. Maklum bersama 3 rekan sesama wartawan lainnya sibuk liputan HUT RI hingga hingar bingar perayaannya. Nah, Pantai Pasir Padi sepertinya cocok jadi tempat ‘melarikan diri.’

Harus diakui sejak era Walikota Maulan Aklil alias Molen, kawasan Pasir Padi cukup banyak perubahan. Salah satunya keberadaan Amenitas yang diresmikan oleh Kepala KSP, Moeldoko pada Januari 2023 lalu.

Eeh.. Amenitas tuh apaan ya? Amenitas itu adalah seperangkat fasilitas yang melengkapi selain akomodasi. Salah satu nya jalur pedestarian, taman, resto, cafe fasum seperti toilet, kamar bilas hingga tempat cinderamata.

Baca Lainnya  Plt Sekda, Mie Go Pimpin Rapat Pengoptimalan Kerja Staf Khusus Dalam Mendukung Visi Misi Walikota Pangkalpinang

Hari beranjak menuju senja, saya lirik jam tangan, pukul 17.50 WIB. Memang tak ada pemandangan sunset alias matahari tenggelam yang menghiasi garis horizon di Pasir Padi. Namun temaram senja dengan angin sepoy-sepoy plus lampu-lampu pemilik kedai Kelapa Muda yang mulai menyala menciptakan suasana sendiri.

Sebelum balik ke kedai kelapa, saya menuju kamar bilas dan toilet yang berada tak jauh dari centra UMKM, tempat jualan makanan dan cinderamata. Saat melangkah masuk, saya cukup kagum, ternyata bersih dan tidak berbau menyengat.

Yang jelas air bersihnya deras dan melimpah. Kondisi toilet dan ruang bilas ini, membuat pengunjung tak perlu khawatir untuk bolak-balik mandi ke laut di tepi pantai. Yang jelas, usai mandi bisa langsung bilas, langsung salin baju dan beres. Yang perempuan tinggal make over aja dah… Apalagi yang bawa anak-anak, gak perlu khawatir buat urusan beribet semacam, BAB hingga bilas usai mandi laut.

Baca Lainnya  Pj Walikota Lusje Anneke Berkunjung Ke Rumah Singgah PGK di Kota Palembang

Komplit… Itu yang saya dapat simpulkan, amenitas Pasir Padi yang digagas oleh Walikota Pangkalpinang benar-benar terasa melengkapi sarana yang selama ini dibutuhkan tempat wisata, mau santai, jogging, jalan santai, makan, hiburan hingga urusan mandi dan kakus. Sepertinya pengunjung Pasir Padi tinggal siapkan uang untuk jajan di sentra UMKM, belanja cinderamata, makan di resto atau cafe dan… Jangan lupa seruput segarnya Dogan alias kelapa muda sambil menikmati pantai.

Senja beranjak pergi diganti malam. Langit bersih tanpa awan, dan horizon yang mulai samar-samar terlihat dibandingkan lampu-lampu kecil perahu para nelayan. Usai melapas sepatu dan meletakkan di bagasi mobil, saya membayar kelapa muda ke dua saya beranjak pergi.

Saat melintasi pintu gerbang keluar saya teringat ujaran yang sering diucapkan teman-teman di warkop, “lemak nian hidup di Bangka..” mungkin ini salah satu nya. Wisata pantai tak jauh, tiket masuknya murah, harga makan minumnya terjangkau plus fasumnya banyak. Contohnya, Pantai Pasir Padi yang sudah banyak berubah, oleh amenitas yang bikin piknik kita jadi mudah.(**)

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *